Belakangan ini, masyarakat Kabupaten Tasikmalaya dihadapkan pada beberapa peristiwa percobaan bunuh diri yang mengundang keprihatinan bersama. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian publik adalah beberapa kasus percobaan bunuh diri di kawasan Jembatan Cirahong pada Juni 2026. Seorang pria berhasil diselamatkan oleh aparat kepolisian dan warga setelah diduga hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat dari jembatan tersebut. Sebelumnya, pada Mei 2026, peristiwa serupa juga terjadi di lokasi yang sama dan memicu operasi pencarian oleh tim gabungan.

Peristiwa di Jembatan Cirahong bukan sekadar sebuah berita kriminal, melainkan sebuah alarm bagi kita semua bahwa persoalan kesehatan mental di tengah masyarakat semakin nyata dan membutuhkan perhatian serius. Di balik setiap tindakan percobaan bunuh diri, sering kali terdapat seseorang yang sedang menghadapi tekanan hidup, merasa sendirian, kehilangan harapan, dan tidak menemukan ruang yang aman untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya.

Secara nasional, data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di Indonesia mengalami peningkatan kasus dari tahun ke tahun. Tahun 2025 kenaikan kasus 469 (empat ratus enam puluh sembilan) kasus dari 1.023 (seribu dua puluh tiga) kasus, hal ini masih menjadi persoalan yang mengkhawatirkan dan didominasi oleh kelompok usia produktif. Di sisi lain, hasil Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa 1 (satu) dari 2 (tiga) remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 1 (satu) tahun terakhir, dan sebagian di antaranya pernah memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup. Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan lagi isu yang dapat dipandang sebelah mata. Siapa pun dapat mengalami tekanan psikologis, termasuk masyarakat di Kabupaten Tasikmalaya.

Salah satu persoalan terbesar dalam isu kesehatan mental adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengungkapkan apa yang sedang dirasakannya. Banyak orang memilih memendam kesedihan, kecemasan, maupun masalah yang dihadapi karena takut dianggap lemah, takut dihakimi, atau bingung kepada siapa harus bercerita. Masyarakat Indonesia, termasuk di wilayah perdesaan seperti Kabupaten Tasikmalaya, masih memiliki stigma yang kuat terhadap isu kesehatan mental. Tidak sedikit orang yang menganggap bahwa seseorang yang mengalami gangguan psikologis hanya kurang bersyukur, terlalu memikirkan masalah, atau sekadar mencari perhatian. Padahal, stigma tersebut justru membuat individu yang sedang mengalami kesulitan semakin menutup diri.

Kasus di Jembatan Cirahong menjadi pengingat bahwa banyak orang yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya sedang berjuang dalam diam. Ketika seseorang tidak menemukan tempat untuk didengarkan dan merasa tidak memiliki dukungan sosial, tekanan psikologis dapat berkembang menjadi keputusasaan yang mendalam.

Banyak kasus percobaan bunuh diri bukan disebabkan oleh keinginan untuk mati, melainkan karena seseorang merasa tidak lagi memiliki jalan keluar dari rasa sakit, tekanan, dan kesepian yang sedang dialaminya. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Ketika seseorang mengalami sakit fisik, ia akan mencari pertolongan. Namun ketika mengalami kelelahan emosional, kecemasan, atau depresi, tidak sedikit yang justru memilih diam.

Padahal, dukungan sosial merupakan salah satu faktor protektif yang penting dalam mencegah bunuh diri. Mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan rasa aman, dan menunjukkan kepedulian dapat menjadi langkah sederhana tetapi sangat berarti bagi seseorang yang sedang berada di titik terendah kehidupannya. Budaya bercerita dan mencari bantuan perlu terus dibangun di tengah masyarakat Kabupaten Tasikmalaya. Keluarga, teman, sekolah, organisasi kepemudaan, tokoh agama, hingga pemerintah daerah memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman dan suportif bagi setiap individu untuk berbagi cerita, mengekspresikan perasaan, serta mencari pertolongan ketika menghadapi tekanan hidup.

Di era digital, perkembangan teknologi juga membuka peluang baru dalam upaya promotif dan preventif di bidang kesehatan mental. Berbagai layanan dukungan emosional dan konseling berbasis daring mulai hadir dan dapat diakses oleh masyarakat, salah satunya adalah aplikasi Pelukan. Platform ini menyediakan ruang aman bagi pengguna untuk berbagi cerita, memperoleh dukungan emosional, dan merasa didengarkan tanpa takut dihakimi. Kehadiran layanan semacam ini menjadi alternatif yang menjanjikan, terutama bagi generasi muda yang sering kali merasa canggung atau bingung untuk mengungkapkan permasalahan yang sedang dihadapinya secara langsung.

Meskipun demikian, layanan curhat daring tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran tenaga profesional dalam penanganan gangguan kesehatan mental. Platform tersebut dapat menjadi langkah awal bagi individu untuk berani membuka diri, mencari dukungan, dan memperoleh informasi mengenai layanan kesehatan mental yang lebih komprehensif apabila dibutuhkan. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas akses dukungan psikologis dan mencegah individu menghadapi persoalannya seorang diri.

Dalam konteks Kabupaten Tasikmalaya, pemanfaatan layanan curhat daring, termasuk aplikasi seperti Pelukan dan platform sejenis, dapat menjadi salah satu upaya preventif untuk menjangkau masyarakat yang masih enggan mengakses layanan kesehatan mental secara langsung. Yang terpenting adalah memastikan bahwa setiap individu memiliki ruang yang aman untuk berbicara, didengarkan, dan mengetahui bahwa mereka tidak menghadapi permasalahannya seorang diri.

Peristiwa yang terjadi di Jembatan Cirahong seharusnya menjadi momentum bagi seluruh elemen masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental. Upaya pencegahan tidak cukup dilakukan ketika peristiwa telah terjadi, tetapi harus dimulai dengan meningkatkan literasi kesehatan mental, menghilangkan stigma, memperkuat layanan konseling, dan membangun lingkungan yang suportif.

Setiap orang dapat menjadi penyelamat bagi orang lain, dimulai dari hal sederhana: mendengarkan, menanyakan kabar, dan hadir ketika seseorang membutuhkan teman untuk bercerita. Tidak semua luka dapat terlihat oleh mata. Tidak semua orang yang tersenyum sedang baik-baik saja. Terkadang, di balik diam seseorang tersimpan beban yang begitu berat hingga ia merasa tidak lagi memiliki harapan.

Kasus percobaan bunuh diri di Jembatan Cirahong hendaknya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesehatan mental adalah tanggung jawab bersama. Sudah saatnya Kabupaten Tasikmalaya menjadi daerah yang lebih peduli, lebih terbuka, dan lebih siap menjadi tempat yang aman bagi siapa pun untuk bercerita. Karena terkadang, satu pertanyaan sederhana, “Apa kamu baik-baik saja?” dapat menjadi awal dari terselamatkannya sebuah kehidupan.

Arfika Muhammad Nizar
arfika